Skip to main content
MBOIS

follow us

Pemilu dan ‘Politik’ Milenial - Beberapa waktu lalu, saat makan malam bersama yang belakangan makin jarang terjadi, aku ngobrol dengan kedua anak lanangku tentang pemilu, wa bil khusus tentang pilpres. Ini merupakan pemilu pertama bagi mereka. Sudah punya pilihan untuk pemilu besok? Begitu kutanya mereka. Uniknya keduanya menjawab berbeda.

Si bungsu, anak gaul yang suka ngafe dengan sesama bikers dan teman mainnya, menjawab yakin: sudah. Seperti kadang terlihat dari akun medsosnya, doi lebih condong ke 01. Tampaknya doi tertarik dengan agenda pro-milenial dan ‘kerja nyata’ yang diusung oleh capres mantan bakul mebel itu. Doi juga acap berkomentar miring dengan ‘politisasi agama’ yang kerap digunakan untuk menyerang sosok cengkring itu. Uniknya, doi sebenarnya bersekolah di lembaga yang jelas-jelas mengusung paslon 02. “Teman-teman justru berani melawan ketika ada penggiringan ke 02,” ujarnya suatu ketika.

Sementara itu si sulung, yang justru lebih serius mengikuti pilpres dan acap mengikuti debat calon presiden dengan seksama bersama sejumlah temannya, malah menjawab: belum tahu. Kenapa? “Karena kok tidak ada ide dan gagasan istimewa yang dijajakan oleh kedua kandidat. Hanya bermain kata dan retorika.” Demikian ujar siswa kelas 3 SMA ini.

Waduh. Jadi bagaimana dong?

Meski mencoba bersikap demokratis, aku coba membantunya dengan semacam panduan berfikir.
Silakan dibaca bagi yang masih galau jelang mencoblos…;)

Pertama, jangan terpedaya oleh retorika, lihatlah jejak karyanya. Meski retorika penting, tapi ia bisa menipu dan palsu. Yang lebih sejati adalah jejak karya sang calon. Pilihlah yang jejak karyanya jelas dan bermanfaat untuk banyak orang. Jika itu belum cukup maka, kedua, carilah yang memberi harapan, bukan yang menebarkan kecemasan. Pilpres adalah ajang untuk meyakinkan publik ihwal ‘bagaimana mencipta hidup bersama yang lebih baik’. Mereka yang menebar kecemasan niscaya akan menuai kekalahan. Jika itu belum juga cukup, ketiga, pilihlah yang secara ‘moral’ lebih sedikit celanya. Timbanglah calon yang ada dari ‘kacamata moral’. Pernah dihukum atau dipecat dari institusi terhormat, misalnya, adalah ‘noda’ tak berampun untuk jadi pemimpin.

Jika belum juga yakin, keempat, cermati yang lebih berpeluang membuka masa depan lebih ciamik. Jika kedua kandidat sama-sama kurang menarik dan meyakinkan, pilih siapa yang keterpilihannya berpeluang mengantarkan munculnya generasi baru pemimpinan republik yang keren dan bermartabat pada tahun 2024. Jika terpilih kembali, Jokowi tak boleh menjadi capres lagi. Sang wakil, KH. Ma’ruf Amin tampaknya juga terlalu tua untuk ikut bertanding di tahun 2024. Maka, kita berpeluang menyaksikan pertandingan politik yang berkualitas tinggi dalam Pilpres 2024 dengan kandidat berkelas seperti Anies Baswedan, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa, Airlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, dkk.

Apakah si sulung lantas akan memilih Jokowi, mantan pedagang mebel yang jadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, lalu terhitung lumayan sukses membangun infastruktur di berbagai penjuru tanah air sambil mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan?

Entahlah. Tunggu cerita dari kotak TPS besok pagi… :D

Tulisan mencerdaskan dari Najib Azca, Penulis Buku "Dua Menyemai Damai: Peran dan Kontribusi Muhammadiyah dan NU dalam Perdamaian dan Demokrasi" dan Direktur Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM

Bacaan Mbois Lainya :

Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar